Senin, 15 September 2014

Gastro-Esophageal Reflux Disease (GERD)

GERD adalah gejala atau kerusakan mukosa esofagus akibat masuknya isi lambung ke esofagus. 
Pada GERD juga ditemukan esofagitis,inflamasi/pembengkakan pada permukaan esofagus (mukosa); sumbatan, kesulitan dalam menelan/meneguk; dan nyeri dada. Gejala lain yang terjadi diantaranya batuk, suara serak, suara berubah, sakit telinga, rasa terbakar di dada, mual dan sinusitis.
Komplikasi GERD diantaranya pembentukan sumbatan, Barrett’s esophagus, esophageal spasms, esophageal ulcers, dan dapat menyebabkan kanker esofagus, terutama pada pasien di atas 60 tahun.

SASARAN, TUJUAN DAN STRATEGI TERAPI
Tujuan terapi GERD adalah menghilangkan gejala, menyembuhkan esofagitis (jika terjadi) dan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Sasaran terapinya adalah asam lambung, lapisan mukosa lambung. Strategi terapinya dengan menurunkan sekresi asam di lambung, mengurangi keasaman pada lambung. Melapisi mukosa lambung, menaikkan pH dan mengurangi terjadinya reflux, mempercepat pengosongan lambung, memperkuat LES, faktor barier antirefluks terpenting.
Terapi untuk GERD dapat dibedakan menjadi dua yaitu terapi tanpa obat atau nonfarmakologis (pola hidup sehat, terapi endoskopi, operasi) dan terapi menggunakan obat atau farmakologis.
  1. Terapi non farmakologi dapat dilakukan dengan modifikasi gaya hidup seperti menurunkan berat badan, tidur dengan posis kepala lebih tinggi dari posisi tubuh, mencegah makan 2 jam sebelum tidur, menghindari makanan yang dapat memicu GERD seperti kopi, alkohol, suplemen vitamin C dosis tinggi, makanan tinggi lemak, merokok, minuman berkarbonasi, cokelat, peppermint, makanan yang asam, mencegah minum susu sebelum tidur. 
  2. Terapi farmakologinya menggunakan obat proton-pump inhibitor yang efektif menurunkan sekresi asam, antasida yang dapat menetralkan keasaman lambung, Asam alginat (Gaviscon) yang dapat melapisi mukosa sebaik menaikkan pH dan menurunkan reflux, antagonis H2 receptor seperti ranitidin, famotidin yang mengurangi sekresi asam lambung, prokinetik yang mempercepat pengosongan lambung dan memperkuat LES; dan sucralfat yang berguna sebagai tambahan untuk menyembuhkan dan mencegah kerusakan esofagus karena GERD.
Pada sebagian besar pasien, pengobatan dapat dilakukan dengan beberapa tahap tergantung keparahan gejala GERD yaitu GERD gejala ringan, gejala sedang; gejala parah dan mengalami kejadian erosif. Pada pasien yang mengalami gejala GERD sedang dimana gejala muncul beberapa kali dalam seminggu atau tiap hari sebaiknya diterapi dengan proton pump inhibitor atau antagonis H2 reseptor. Dengan efikasinya yang baik dan dosis sekali minum sehari, proton pump inhibitor semakin sering diresepkan sebagai terapi lini pertama untuk GERD dengan gejala ringan sampai sedang. Untuk pasien yang gejalanya tetap muncul setelah pengobatan dengan dosis standar antagonis H2 reseptor selama 6 minggu, sebaiknya diobati dengan proton pump inhibitor karena meneruskan pengobatan dengan antagonis H2 reseptor atau dengan menaikkan dosisnya jarang terbukti efektif untuk menghilangkan gejala. 
Untuk pasien dengan gejala yang parah dan pasien dengan komplikasi dan keparahan organ tubuh (seperti oesofagitis, oesophageal ulceration, oesophagopharyngeal reflux, barret’s oesophagus) serta untuk pasien yang secara endoskopi terbukti mengalami esofagitis erosif, terapi awal yang optimal adalah dengan proton pump inhibitor. Proton pump inhibitor yang diberikan sekali sehari dapat menghilangkan gejala dan menyembuhkan esofagitis di atas 80% pasien atau di atas 95% pada pemberian 2xsehari. Oleh karena itu proton pump inhibitor menjadi obat pilihan untuk GERD dengan gejala parah atau mengalami penyakit erosif. Suspect manifestasi atypical (seperti asma dan laringitis) juga diberikan terapi awal dengan proton pump inhibitor.
Untuk pasien dengan gejala yang parah atau pasien komplikasi atau keparahan organ tubuh (seperti esofagitis, oesophageal ulceration, oesophagopharyngeal reflux, barret’s oesophagus), pasien perlu dicek kembali jika gejala tidak hilang selama 4-6 minggu pengobatan dengan proton pump inhibitor. Ketika gejala berkurang, terapi pengobatan dimodifikasi secara perlahan-lahan ke terapi pemeliharaan dengan cara diantaranya menurunkan dosis proton pump inhibitor atau mengganti pengobatan dengan antagonis H2 reseptor. Akan tetapi untuk pasien yang secara endoskopi terbukti mengalami penyakit erosif, ulcerative atau stricturing, pengobatan dengan proton pump inhibitor biasanya perlu dipertahankan pada dosis efektif minimum.
OBAT GOLONGAN PROTON PUMP INHIBITOR  
Omeprazole

  • Indikasi : pengobatan heartburn dan gejala lain yang berhubungan dengan GERD, pengobatan jangka pendek (4-8 minggu) erosive esofagitis yang didiagnosa secara endoskopi, pemeliharaan penyembuhan erosive esofagitis.
  • Kontraindikasi : hipersensitif omeprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, lanzoprazole, pantoprazole, rabeprazole), atau terhadap komponen lainnya dalam formula
  • Bentuk sediaan : kapsul
  • Dosis dan aturan pakai untuk dewasa :

GERD dengan gejala : 20 mg/hari selama 4 minggu
Esofagitis erosif : 20 mg/hari selama 4-8 minggu

  • Efek samping : Sakit kepala, pusing, ruam, diare, nyeri perut, mual, muntah, kentut, konstipasi, kehilangan rasa, lemah, nyeri punggung, infeksi saruran pernapasan atas, batuk
  • Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan mnyusui. Resiko kehamilan : faktor C. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.
Lansoprazole

  • Indikasi : pengobatan jangka pendek GERD dengan gejala, pengobatan jangka pendek semua tingkatan esofagitis erosif
  • Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap lansoprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, omeprazole, pantoprazole, rabeprazole) atau terhadap komponen lainnya dalam formula
  • Bentuk sediaan : kapsul
  • Dosis dan atuan pakai :

Anak-anak 1- 11 tahun
Pada GERD, esofagitis erosif :
< 30 kg : 15 mg 1 x sehari
≥ 30 kg : 30 mg 1 x sehari
Catatan : dosis dapat ditingkatkan pada pasien jika gejala masih tampak setelah pengobatan 2 minggu atau lebih.(dosis maksimum 30 mg, 2 x sehari)

Anak-anak 12-17 tahun
GERD non-erosif : 15 mg 1x sehari hingga selama 8 minggu
Esofagitis erosif : 30 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu
Dewasa
GERD dengan gejala : pengobatan jangka pendek : 15 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu
Esofagitis erosif : Pengobatan jangka pendek : 30 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu, pengobatan dapat dilanjutkan 8 minggu lagi untuk pengulangan atau untuk pasien yang tidak sembuh setelah pengobatan selama 8 minggu; terapi pemeliharaan : 15 mg 1 x sehari

  • Efek samping : Sakit kepala, nyeri perut, konstipasi, diare, mual.
  • Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan menyusui. Resiko kehamilan : faktor B, penggunaan selama kehamilan hanya jika dibutuhkan. Pada kerusakan fingsi hati dianjurkan penurunan dosis, sebaikanya tidak diberikan pada anak-anak < 1 tahun. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.
Pantoprazole

  • Indikasi : Pengobatan dan pemeliharaan penyembuhan esofagitis erosif yang berhubungan dengan GERD. Mengurangi tingkat kekambuhan gejala heartburn dalam sehari dan malam hari pada GERD
  • Kontraindikasi : Hipersensitif terhadap pantoprazole, turunan benzimidazole (esomeprazole, omeprazole, lansoprazole, rabeprazole) atau terhadap komponen lainnya dalam formula.
  • Bentuk sediaan : tablet
  • Dosis dan aturan pakai :

Oral
Dewasa :
Pada Esofagitis erosif berhubungan dengan GERD :
Pengobatan : 40 mg 1 x sehari hingga selama 8 minggu , pengobatan dapat dilanjutkan 8 minggu lagi untuk pasien yang tidak sembuh setelah pengobatan selama 8 minggu.
Pemeliharaan penyembuhan : 40 mg 1 x sehari
Catatan : dosis yang lebih rendah (20 mg 1x sehari)telah terbukti sukses digunakan pada pengobatan dan pemeliharaan GERD ringan.
  •  Efek Samping : Nyeri dada, sakit kepala, insomnia, pusing, migrain, ansietas, ruam, hiperglikemia, hiperlipidemia, diare, kentut, nyeri perut, muntah, mual, konstipasi, dispepsia, gastroenteritis, kerusakan rektal, infeksi saluran kencing, perubahan frekuensi buang air kecil, keabnormalan fungsi hati., athralgia, nyeri punggung, nyeri leher, lemah,hypertonia, bronkitis, batuk, dyspnea, faringitis, rinitis, sinusitis, infeksi saluran pernafasan atas.
  • Resiko khusus : Hati-hati pada pasien dengan penyakit hati, kehamilan dan mnyusui. Resiko kehamilan : faktor B, penggunaan selama kehamilan hanya jika dibutuhkan. Tidak dianjurkan bagi anak-anak. Tidak dianjurkan bagi pasien menyusui.

Tipe Orang Ngutang

Dalam hidup yang keras dan kejam ini, ada kalanya kamu mendapati diri kamu sedang miskin luar biasa dan membutuhkan uang. Salah satu metode mendapatkan uang paling cepat tentu saja adalah dengan ngutang. Nah, ternyata orang ngutang ini sendiri ada macem-macem lho. Berikut ini MBDC akan membahas 4 tipe orang ngutang...

1. Si Langsung Bayar

Ini adalah tipe orang ngutang yang paling bisa dipercaya dan diandalkan. Orang kayak gini biasanya sebenernya gak suka ngutang dan dia cuma ngutang kalo emang beneran terpaksa banget. Katakanlah dia lagi mau jajan tapi dompetnya ketinggalan, jadi dia terpaksa pinjem duit kamu dulu. Tapi begitu dia udah dapet dompetnya balik, dia bakal langsung bayar ke kamu. Ngutangin orang kayak gini enak, karena kamu gak perlu repot-repot nagih. Tingkat kesadarannya tinggi.

2. Si Suka Lupa

Nah ini agak repot nih. Ini adalah tipe orang ngutang yang suka kelupaan kalo dia ngutang. Gak sengaja sih, emang beneran lupa aja. Kalo ini temen deket kamu sih gak papa ya, tinggal ditagih aja. Yang repot adalah kalo si suka lupa ini adalah orang yang gak terlalu deket sama kamu atau bahkan bos kamu. Agak gak enak juga kan nagih duit sama bos kamu. Kecuali kalo kamu emang beneran butuh duitnya sih. Biasanya sih jadi enak-enak aja nagih duit sama bos.

3. Si Sok Lupa

Nah ini nyebelin. Ngutang, sebenernya inget kalo dia punya utang, tapi sok lupa. Gimana kamu tau kalo dia sok lupa bukannya lupa beneran? Biasanya dia akan sedikit menyinggung soal utangnya ke kamu, tapi kemudian dia akan menunda proses pembayarannya. Contoh:
"Eh iya, tadi gue masih ada utang ya sama lo? Berapa? 100ribu ya? OK deh, ntar ya"
Kalo udah kayak gitu kamu akan mengira bahwa dia emang belom ada duit dong. Eh ternyata abis dia ngomong kayak gitu, dia beli sesuatu seharga 150ribu. Cash. Kesel gak sih. Kesel lah. Jangan boong.

4. Si Gak Mau Bayar

Nah ini udah paling tai. Tainya tai ya ini. Kerjaannya ngutang mulu dan gak mau bayar. Terang-terangan gak mau bayar. Kalo kamu tagih, dia bakal bilang:
"Ah belom ada duit gue..."
atau
"Alaaaaah...segitu doang. Jangan pelit-pelit lah. Amal lah sekali-sekali."
Kalo kamu punya temen kayak gini sih saran MBDC jangan diutangin lagi deh. Makan ati lho.
Demikianlah. Termasuk tipe orang ngutang yang manakah kamu / temen kamu?

Sumber : http://malesbanget.com/2012/08/4-tipe-orang-ngutang/