Ibarat sebuah kapal, seorang suami adalah nahkoda-nya. Maka dari itu, seorang suami dalam rumah tangga memiliki tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan seorang istri.
Dalam berumah tangga adalah saling melengkapi dan saling
berkomunikasi. Seperti halnya sebuah gedung yang menjulang tinggi,
ternyata gedung tersebut dapat berdiri kokoh, tegak, karena adanya
prinsip saling melengkapi. Ada semen, batu bata, pasir, beton, kayu, dan
bahan-bahan bangunan lainnya, lalu bergabung dengan serasi, tepat
sesuai dengan posisinya sehingga kokohlah bangunan itu. Begitu pula halnya dengan rumah tangga, jika suami dan istri tidak tahu akan
posisinya, tidak tahu hak dan kewajiban, begitu juga mertua atau orang tua tidak tahu posisinya, maka
akan seperti bangunan yang tidak diatur komposisi bahan-bahan
pembangunnya maka akan segera runtuh berkeping-keping. Maka dalam membangun rumah tangga sebaiknya tanpa ada intervensi atau campur tangan langsung dari pihak manapun.
Dan ada hal lain yang perlu diingat, menikah itu bukan hanya masalah mampu mencari uang, walaupun hal ini juga penting, namun bukan salah satu yang terpenting. Suami bekerja keras membanting tulang peras keringat, namun ternyata tidak melaksanakan sholat, sungguh sangatlah rugi. Seharusnya seorang suami bertekad dan pandai dalam membawa kapal dengan seimbang (dunia dan akhirat) agar seluruh anggota awak kapal (baca istri dan anak) bisa selamat sampai tujuan akhir, yaitu surga".
Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan
batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak
mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan
selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS. At-Tahriim [66]: 6)
by your wife as "Our Reminder"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar